Skip to main content

Struktur dan Pengembangan Modul Ajar KBC berbasis Deep Learning

Struktur dan Pengembangan Modul Ajar KBC berbasis Deep Learning
Struktur dan Pengembangan Modul Ajar Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Berbasis Deep Learning untuk Mengoptimalkan Experiential Learning pada Siswa Madrasah.

Sejak ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) resmi menjadi acuan pembelajaran bagi seluruh madrasah di Indonesia dari Raudhatul Athfal hingga Madrasah Aliyah. Kebijakan ini bukan lahir dari ruang kosong. Ia hadir sebagai respons nyata atas krisis kemanusiaan yang kian mengkhawatirkan: intoleransi, perundungan, kekerasan di lingkungan sekolah, dan erosi nilai-nilai empati di kalangan generasi muda. 

Bagi guru yang pertama kali membuka dan menyusun modul ajar berbasis KBC, wajar jika muncul pertanyaan: mengapa modul ajar ini terasa "berbeda" dari modul biasanya? Mengapa ada bagian Tema Panca Cinta, Materi Insersi, pendekatan Deep Learning, hingga kolom Iklim/Budaya Madrasah yang tidak lazim ditemukan dalam format modul konvensional? 

Artikel ini hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan berpijak langsung pada Panduan KBC yang diterbitkan Direktorat KSKK Madrasah, Kementerian Agama RI, sekaligus menjelaskan bagaimana struktur dan pengembangan modul ajar KBC harus terintegrasi pendekatan Deep Learning. 

Struktur Modul Ajar Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) 

Struktur dan Pengembangan Modul Ajar KBC berbasis Deep Learning

Untuk memahami mengapa modul ajar KBC memiliki struktur yang khas, kita perlu terlebih dahulu memahami landasan filosofis yang menopangnya. Panduan Kemenag menjelaskan bahwa KBC berdiri di atas tiga pilar pemikiran: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. 
  • Secara ontologis, KBC memandang bahwa Tuhan, manusia, dan alam semesta adalah satu kesatuan yang utuh. Ketiganya diikat oleh mekanisme sympathea saling cinta sebagai fondasi harmoni kehidupan. Dari sinilah lahir keyakinan bahwa pendidikan harus menanamkan rasa keterikatan dengan Allah, dengan sesama, dengan alam, dan dengan bangsa. 
  • Secara epistemologis, KBC meyakini bahwa seluruh alam semesta adalah tanda-tanda kebesaran Allah (tajalli Al-Haqq). Belajar bukan sekadar mengakumulasi informasi, melainkan menyelami keterkaitan mendalam di antara semua hal. Metode yang dianjurkan adalah experiential learning pengalaman nyata (hudhuri) karena hanya dengan mengalamilah seseorang bisa merasakan cinta, bukan sekadar memahaminya secara kognitif. 
  • Secara aksiologis, manusia berkewajiban menjalani hidup dengan etika dan akhlak luhur yang berbasis cinta kepada seluruh unsur alam semesta. Inilah yang menjelaskan mengapa modul ajar KBC tidak hanya menargetkan kompetensi akademis, tetapi secara eksplisit juga menyasar pembentukan karakter. 

Pengembangan Modul Ajar KBC berbasis Deep Learning 

Jika Anda membandingkan modul ajar KBC dengan modul ajar Kurikulum Merdeka standar, Anda akan menemukan beberapa komponen tambahan yang khas. Berikut penjelasan mengapa komponen-komponen itu ada berdasarkan referensi resmi dari Kementerian Agama. 


a. Tema Kurikulum Berbasis Cinta (Panca Cinta) 
Panduan KBC menetapkan lima topik utama yang disebut Panca Cinta: 
  1. Cinta Allah dan Rasul-Nya, 
  2. Cinta Ilmu, 
  3. Cinta Lingkungan, 
  4. Cinta Diri dan Sesama Manusia, dan 
  5. Cinta Tanah Air. 
Kelima topik ini bukan mata pelajaran baru, melainkan dimensi nilai yang diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada. Ketika guru mencantumkan Topik Panca Cinta dalam modulnya, ia sedang mendokumentasikan dimensi nilai yang menjadi ruh dari pembelajaran bukan sekadar formalitas. 

b. Materi Insersi 
Materi Insersi adalah nilai atau konsep spesifik dari Panca Cinta yang disisipkan secara kontekstual ke dalam materi pelajaran, bukan ditempel sebagai kalimat motivasi, melainkan diintegrasikan secara organik dalam alur pembelajaran. Setiap insersi memiliki jejak langsung ke dalam Tabel Materi Pokok KBC yang tercantum dalam panduan Kemenag. Guru tidak perlu berhenti di tengah pelajaran untuk berceramah tentang nilai, cukup dengan memilih konteks yang relevan, nilai tersebut mengalir dengan sendirinya. 

c. Pendekatan Deep Learning: Mindful, Meaningful, Joyful 
Panduan Kurikulum Berbasis Cinta mengamanatkan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai proses internalisasi nilai secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). 

Sebagai contoh konkret dalam lampiran RPP-nya (di dalam Dokumen Keputusan Dirjen Pendis No. 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta): Pembiasaan Salat Dhuha yang guru rancang dengan alur Mindful, mengajak siswa menarik napas dan memusatkan perhatian sebelum ibadah, sehingga salat bukan sekadar rutinitas, melainkan pengalaman spiritual yang disadari. Kemudian Meaningful, di mana siswa merefleksikan makna salat bagi diri dan sesamanya. Dan Joyful, kegembiraan yang muncul bukan dari hiburan, melainkan dari rasa kedekatan dengan Allah. 

Perpaduan Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning ini saling menguatkan: KBC memberi nilai dan ruh; Deep Learning memberi struktur yang membuat nilai itu benar-benar terinternalisasi.

d. Komponen Lain: Iklim Madrasah
Kolom Iklim/Budaya Madrasah hadir karena panduan menegaskan bahwa cinta tidak bisa diajarkan hanya melalui jam pelajaran,ia harus hidup dalam ekosistem madrasah secara keseluruhan.

Kesimpulan
Panduan KBC secara tegas menyebut bahwa KBC adalah jiwa dari seluruh kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler bukan beban tambahan. Perubahan terbesar yang diminta bukan pada apa yang diajarkan, melainkan mengapa dan bagaimana. Panduan bahkan mengingatkan bahwa semua yang tertulis di dalamnya bersifat "contoh" madrasah bebas memodifikasi dan berinovasi sesuai kondisi masing-masing. 

Modul ajar Kurikulum Berbasis Cinta berbasis Deep Learning adalah salah satu bentuk inovasi itu, mengambil ruh dari panduan Kemenag, memperkayanya dengan pendekatan Deep Learning, dan menyesuaikannya dengan konteks pembelajaran yang nyata. Setiap komponen yang tampak berbeda dari modul biasa adalah bukti bahwa kurikulum ini serius memandang pendidikan sebagai lebih dari sekadar transfer pengetahuan. 

Ia adalah surat cinta, dari guru kepada muridnya, dari madrasah kepada generasi bangsa. 

Klaim Sertifikat 
Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi Bapak/Ibu Madrasah dalam Program Literasi Digital Guru, silakan lengkapi data diri pada formulir di bawah ini, lalu unduh sertifikat Anda secara otomatis sebagai bukti belajar mandiri pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB).
Referensi 
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025). Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah. Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.
Newest Post
Ki Hajar Dewantara : “Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani”,- Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan kekuatan.